Minggu, 15 Januari 2012

Transit Venus , Fenomena pertengahan tahun 2012



 Planet Venus (NASA)










        Pertengahan tahun ini, langit di Indonesia akan dihiasi oleh fenomemena alam bersiklus ratusan tahun. Fenomena ini dikenal dengan Transit Venus, yang terjadi saat Venus, Bumi dan Matahari berada dalam satu garis lurus perputaran.

Fenomena alam ini tidak akan membahayakan bagi mata, juga tidak menimbulkan dampak terhadap alam seperti pasang air laut.

“Ini tidak berbahaya karena mata telanjang tidak memungkinkan untuk melihat fenomena ini. Harus menggunakan alat seperti teleskop atau binokuler. Paling mudah dengan menggunakan film hitam yang ditempelkan dalam teleskop,” jelas Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin saat dimintai keterangan, Selasa, 3 Januari 2012.

Saat ditanya apakah fenomena ini akan berdampak pada alam, Thomas menjawab. “Cuaca dan langit akan biasa saja, karena ini sama halnya dengan gerhana biasa, Cuma ini yang menutupi matahari hanya bintik kecil Venus."

Venus akan melintasi piringan matahari selama kurang lebih 7 jam. Untuk wilayah Timur Indonesia, lanjutnya, akan dapat melihat transit ini lebih lama yakni mulai pukul 07.09 sampai 13.49 WIT.

Sedangkan wilayah Indonesia Barat kemungkinan tidak dapat melihat proses transit sepenuhnya, yang hanya dapat melihat dari pukul 05.09 sampai 11.49 WIB. “Wilayah Barat tidak kelihatan sepenuhnya, karena tidak mengikuti transit Venus sejak awal terjadi,” tambahnya.

Thomas mengatakan bahwa fenomena ini bersiklus 8 tahun dan 100 tahun. Transit Venus terakhir terjadi pada 8 Juni 2004, dan diperkirakan akan kembali terjadi pada 7 Juni 2012.

“Akan terjadi lagi kemungkinan 12 Desember 2117  dan 8 Desember 2125,” tambahnya. Dalam penjelasannya, sebelumnya Transit Venus telah lewat pada 9 Desember 1774, 6 Desember 1882.

“Syarat untuk dapat melihat yakni cuaca harus terang, jika hujan atau tertutup awan, matahari tidak terlihat,” katanya. Untuk  7 Juni 2012, Thomas mengatakan kemungkinan cuaca cukup baik.

Durian Seharga Satu Juta Rupiah



Sejumlah pejabat pemerintah Kabupaten Bantul, Yogyakarta, mengikuti lelang buah durian di Kebun Buah Mangunan. Durian motong ukuran besar dapat dibeli dengan harga Rp 1 juta per buah.

Satelit Rusia Jatuh ke Bumi


Phobos-Grunt, satelit milik Rusia yang rusak di orbit Bumi (foxnews.com)


Satelit Luar Angkasa Rusia, Phobos Grunt, diperkirakan akan jatuh ke bumi. Satelit milik Rusia itu kemungkinan akan mendarat di lautan.

Dikutip dari laman Guardian, satelit yang diluncurkan pada penghujung tahun 2011 gagal mendarat dalam misi ke Mars. Ilmuwan yang memantau orbit satelit ini tidak bisa memastikan di mana satelit akan jatuh. Tapi, sejumlah kota-kota besar seperti London dan New York masuk dalam kawasan berpotensi tempat jatuh puing-puing pesawat ini.

Dalam sebuah pertemuan Science Media Centre di London, Kepala Badan Antariksa Inggris, Richard Crowther mengaku tak khawatir dengan kembalinya Pbobos-Grunt.

"Ini tidak akan membuat saya terjaga sepanjang malam karena khawatir puing satelit akan mendarat di atap rumahku," kata dia. Jika dilihat dari luar angkasa, imbuhnya, sebagian besar wilayah Bumi tertutup air.
Dia menilai jatuhnya sampah satelit itu tidak perlu jadi ancaman karena biasanya jatuh di lautan atau terjadi saat malam hari.
"Jika anda melihat daratan, populasi terkonsentrasi di sekitar pantai atau daerah-daerah tertentu," jelasnya.
Crowther menambahkan kembalinya satelit dan pesawat antariksa akan menjadi materi pembahasan PBB. Menurutnya, para insinyur perlu memikirkan desain pesawat luar angkasa dengan mempertimbangkan kemungkinan kembalinya satelit ke bumi karena gagal.

"Desain yang membuat pesawat hancur sebelum masuk kembali ke bumi sehingga tidak membahayakan manusia yang ada di tanah."

Phobos-Grunt merupakan pesawat paling besar yang pernah dibuat Badan Luar Angkasa Rusia, Roscosmos. Misi pesawat ini adalah mendarat di Mars dan mengambil sejumlah sampel dari planet itu. China pun ikut serta dalam misi ini dengan menitipkan kontainer berisi bakteri. China ingin menguji kelangsungan hidup mereka di luar angkasa.

Sementara Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin menyatakan lokasi tepat jatuhnya sampah satelit tak bisa dipastikan hingga unit ini benar-benar jatuh ke Bumi. “Dua jam sebelum jatuh baru bisa dipastikan keakuratannya, jatuhnya di titik mana,” kata jebolan Universitas Kyoto ini. (sj)

Sabtu, 07 Januari 2012

TRANS 7 Online


Nonton Trans 7 Langsung Yok ! Klik Play







TRANS TV ONLINE


Mau Nonton Trans TV Online ? Klik PLAY








    Twitter Facebook Favorites More
    Translate